Idul Fitri KBRI Seoul korea

Hari minggu pagi 19 Agustus 2012 Pemandangan berbeda terlihat di Stasiun Daebang Seoul, sebuah stasiun Subway (Kereta bawah tanah) yang berdekatan dengan Komplek Kedutaan Republik Indonesia Korea Selatan, bagaimana tidak beda…. yang semula stasiun ini setiap harinya dipenuhi oleh warga korea yg setiap harinya menggunakan angkutan masal ini namun pagi ini sekitar jam 06 : 00 sampe jam 08:30 penuh sesak dengan wajah pribumi anaknya ibu Pertiwi alias muka muka ganteng orang indonesia :D. para penduduk Indonesia yang berada di Korea Selatan Khususnya Seoul dan sekitarnya tumpah ruah memenuhi komplek KBRI Seoul tempat pelaksanaan sholat Ied Fitri 1433 H.

Suasana lebaran Tahun ini agak sedikit berbeda karena memanga jatuh pada hari libur jadi bisa dipastikan hampir semua masyarakat Indonesia di Korea selatan bisa menghadiri pelaksanaan Shilat Idul Fitri terutama bagi para Pahlawan Devisa yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia yg tinggal di Korea selatan, dari data KBRI seoul saat ini ada sekitar 36.000 penduduk indonesia yg tinggal dikorea dan sekitar 32.000 orang adalah para pekerja yg mengais riski di negeri Ginseng ini dan sisanya adalah pelajar dan lain lain. karena banyaknya jamaah yang datang lebih dari puluhun ribu, pihak Panitia menyediakan tempat serta menbaginya menjadi 4 gate, gate pertama di pelataran Halaman depan kantor KBRI, gate kedua di halaman samping Aula, gate ketiga dihalaman tempat parkir dan gate keempat dilapangan Tennis khusus buat jamaah perempuan.

Untuk mengetahui  suasananya seperti apa tonton aja Video berikut :

dan yang paling melehkan adalah proses antre saat wudhu, saya yg saat itu sampe di Komplek KBRI sekita pukul 07:30 dan langsung ikut antre  ternyata dapat gilirin saat jam ditangan sdh menunjukkan pukul 08:10 butuh waktu 40 menit untuk bisa berwudhu karena banyak dan panjangnya antrian maklum kran tempat wudhu sekitar 30 bh sementara yg antre ribuan orang.

Tepat pukul 09:00 sholat Idul fitri pun dimulai dibawah gunyuran gerimis kecil namun tdk mengurangi kekhusuan pelaksanaan nya. kemudian dilanjutkan dengan khutbah dan terakhir Doa,  disesi acara doa ini tdk terasa setes air jatuh membasahi baju yang kupakai eh ternyata air itu bersumber dari mata sebelah kiri, teringat yg dirumah..teringat bagaimana bahagianya jika saat ini kumpul sama 2 bidadari kecilku, bagaimana rasanya bercanda ria dengan sanak saudara, bagaimana indahnya bisa mencium tangan orang yang dulu melahirkanku, bagaimana dan bagaimana??? eh ternyata orang orang disekitar sudah pada berdiri dan berarti acara dh mau selesai riuh rendah suara orang orang yg mulai berjabat tangan memecah lamunan.

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمنٌِكُمٌ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمٌ

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H Mohon Maaf Lahir Dan Bathin

Sebelum Berangkat Pulang Narsis Dulu 😀 😀

Taman Sebelah KBRI Seoul

Tukang Santet Jakarta

Main hakim sendiri seakan sudah dianggap normal oleh masyarakat kita. Pelakunya bukan cuma rakyat biasa, tapi sering justru aparat yang berwenang. Paling tidak penghakiman dilakukan di depan aparat.
Sampai-sampai majalah Tempo, jauh sebelum pembredelan pernah “menghitamkan” beberapa halamannyla sebagai tanda prihatin. Para pembaca Tempo tentu kaget dan heran. Bermacam dugaan pun segera muncul. Gus Dur termasuk yang heran dan menduga-duga.
“Mengapakah Tempo dibuat hitam seperti itu?” tanya Gus Dur dalam “kuis imajiner”- nya. “Karena reportase soal tukang santet dan
bromocorah Jember.” “Siapakah yang memerintahkan penghitaman itu?” “Tukang santet dan bromocorah Jakarta.”